Mencintai Pekerjaan,Menuju SuksesBekerja membuat manusia mampu mengeksplorasi segenap potensinya sehingga berhasil meraih kesuksesan. Sayangnya, itu tak cukup hanya dengan mau bekerja. Kesuksesan butuh lebih dari itu. Salah satu jawabnya adalah bekerja secara PROFESIONAL
Enny Ratnawati A.
"KETIKA bekerja, sesungguhnya engkau sedang mewujudkan mimpi terindah milik dunia, yang selalu menuntut kepadamu, kapan mimpi itu akan terwujud," ujar Khalil Gibran dalam salah satu puisinya. Gibran juga berpendapat, orang akan tersingkir dari dunia apabila dia tidak bekerja. Tapi, kerja saja tidak cukup. Kecintaan pada pekerjaanlah yang membuat seseorang dapat mewujudkan mimpi terindah milik dunia itu.
Pendapat Gibran barangkali ada benarnya. Apalagi manusia, siapa pun itu, dibekali Tuhan dengan beragam potensi yang seharusnya dapat diaktualisasikan ketika ia bekerja. Memang tidak semua orang memandang kerja sebagai sarana eksplorasi dan bagian dari aktualisasi diri. Bahkan, sebagian besar orang berpendapat, kerja adalah sebuah keharusan. Karena, bila tidak bekerja, bagaimana mungkin kebutuhan hidup bisa terpenuhi.
Sama seperti yang diungkapkan Gibran, ternyata bekerja saja tidak cukup. Paling tidak, pekerjaan yang dikerjakan dengan terpaksa tidak akan membuahkan kesuksesan. Bekerja pada dasarnya juga membutuhkan rasa cinta dan sebuah kesanggupan untuk bersikap profesional.
Lalu, apa yang dibutuhkan agar seseorang menjadi profesional? Jansen Sinamo dalam bukunya 8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda Menuju Sukses menjawabnya. Menurut Jansen, kesuksesan, terutama kesuksesan dalam bekerja, membutuhkan SESUATU. Dan, sesuatu itu adalah ETOS KERJA.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan etos kerja? Mengapa ia begitu dibutuhkan dalam bekerja? Secara etimologi, etos berasal dari bahasa Yunani. Mula-mula artinya adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna.
Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Sedangkan, McKean dalam The New Oxford Dictionary mendefinisikan etos sebagai the characteristic spirit of a culture, era, or community as manifested in it's attitudes and aspirations.
Jansen sendiri mendefinisikan etos kerja profesional sebagai seperangkat perilaku kerja positif yang berakar pada kesadaran yang kental, keyakinan yang fundamental, disertai dengan komitmen yang total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, memercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi etos kerja dan budaya kerja.
Terdapat TIGA unsur konsep etos yang mengangkat etos menjadi roh keberhasilan. SATU, etos mencetak prestasi dengan motivasi superior. Jansen mencontohkan, bila ada seratus orang pekerja lulusan sekolah dasar (SD) dan satu orang mempunyai motivasi superior, dia akan lebih unggul dibandingkan dengan sembilan puluh sembilan pekerja lainnya.
DUA, etos relevan dengan pembangunan masa depan dengan kepemimpinan visioner. Yang dimaksud dengan kepemimpinan di sini tidak terbatas pada organizational leadership, tapi lebih kepada self leadership. TIGA, etos menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif. Jensen menyebut tiga unsur ini sebagai Tri Darma Mahardika, yang dalam bahasa Sanskerta berarti TIGA JALAN KEBERHASILAN
Pertanyaannya, bagaimana mewujudkan tiga jalan keberhasilan itu? Ternyata, bisa dengan beragam cara dan berbagai jalan. Salah satu jalan yang ditempuh Jensen adalah dengan membaca berbagai buku literatur, kitab, hingga dongeng. Dari bacaan tersebut, ia menemukan bahwa jawaban atas berbagai keberhasilan tak lain adalah sejumlah perilaku POSITIF.
0 comments:
Post a Comment